Hari ini aku akan berangkat ke suatu acara seminar bersama teman-teman satu team ku. Malas membawa mobil, mengingat kemacetan Jakarta yang sudah di luar batas kewajaran, aku minta dijemput saja. Seperti biasa, aku akan ditelpon kalau mereka sudah sampai di depan kos ku. Aku masih duduk di atas kasur sambil memelototi acara TV ketika tiba-tiba handphone ku berbunyi. "Woi, ayo keluar sekarang yah, kami sudah di depan nih", seru suara di seberang sana. "Ok, tunggu sebentar yah", jawabku.
Bergegas aku mematikan TV, AC, dan lampu kamar, memakai sepatuku dan berjalan keluar. Sesampainya di depan pagar, sebuah mobil Nissan Livina berwarna silver telah menanti. Segera aku membuka pintu di bagian tengah dan masuk. Di dalamnya sudah ada 3 orang temanku menanti, sambil mengunyah makanan, kelaparan juga rupanya mereka. Mobil pun kemudian mulai meluncur menuju ke tempat acara.
"Ce, mau ga nih cemilan?", Rico menawarkan sambil menjulurkan sebungkus Chitato. "Mau dunk, laper belum makan tau", seruku seraya menyambarnya dari tangannya. Kembali Rico bertanya kepadaku, "Ce, ini boleh buang di depan ga? Buangin dunk", pinta Rico sambil menyerahkan bungkusan plastik snack lainnya yang sudah kosong. Belum sempat aku menjawab, terdengar suara dari balik belakang kemudi di bangku depan, "Va lagi ditanyain, mana mungkin boleh, dia kan miss go green", ujarnya sambil tertawa. "Iya, emang ga boleh, masa buang sampah sembarangan, sini", semprotku sembari mengambil bungkusan plastik tersebut dari tangan Rico dan menyimpannya.
Yah, Julio memang menjulukiku "Miss Go Green" sejak dia memergokiku sedang memunguti bekas staples yang berserakan di lantai. "Ya elah, bekas staples aja dipungutin, rajin amat", celetuknya saat itu. "Biarin, namanya juga sampah, yah musti dibuang ke tempat sampah, kalau bukan kita siapa lagi", celotehku saat itu. Aku memang sangat peduli dengan kelestarian lingkungan, meskipun baru hal-hal kecil saja yang kulakukan seperti selalu membuang sampah di tempat sampah. Ketika tidak menemukan tempat sampah untuk bungkus permenku atau sekedar kertas bekas selotip amplop, aku lebih rela meletakkannya dulu di dalam tas ku sampai menemukan tempat sampah dan membuangnya di tempat yang seharusnya. Hal ini sering menimbulkan ejekan-ejekan kecil dari teman-temanku seperti pada kasus bekas staples. Tapi aku cuek saja, tidak peduli, mau dikata kuno, kolot, konservatif, aku tidak ambil pusing. Aku yakin ini adalah hal yang benar untuk dilakukan. Meski ga ngerti-ngerti amat tentang global warming, tapi aku cukup peduli dengan bumi tempat tinggalku ini.
Masih teringat beberapa tahun yang lalu saat teman baikku, Grace, berpacaran dengan seorang WNA yang berasal dari China. Saat itu kami sedang berkendara bersama di dalam mobil menuju ke suatu acara pula. Saat Grace hendak membuang kertas keluar dari jendela, si pacarnya itu -- yang sekarang sudah menjadi mantan tentunya -- mencegahnya membuang kertas itu dan mengambilnya. "Aku saja cinta loh sama negara kalian, masa kalian sendiri tidak cinta", ujarnya saat itu. Aku merasa tertegun dan sangat malu mendengar ucapannya itu. Yah, dia saja yang orang luar bisa menghargai negara kami, masa kami sendiri tidak bisa menjaga lingkungan kami sendiri. Sejak saat itu aku memang memutuskan untuk tidak pernah lagi membuang sampah sembarangan.
Hal yang sama terjadi pula pada saat acara pernikahanku. Tidak berminat mengikuti trend yang sedang berkembang saat ini, aku mati-matian tidak mau menggunakan acara pelepasan balon selesai acara pemberkatan dari Gerejaku -- meskipun di kemudian hari ada beberapa pula yang bertanya kenapa tidak pakai acara lepas balon, kan keren --. "Ga ah, ingat global warming", kataku kepada team WO-ku yang menanyakan perihal acara pelepasan balon tersebut. Terbayang olehku 100 balon yang terbang tersebut entah kemana dan entah kapan akan hancur. Kelvin, WO-ku, hanya tertawa mendengar jawabanku tersebut. Untungnya, aku punya calon suami yang memang sudah paham seperti apa aku dan dia pun meng-amini.
Menjadi berbeda memang tidak mudah, sering terkesan kaku dan terlalu taat peraturan, padahal turut serta berperan aktif menjaga lingkungan bukanlah suatu peraturan menurutku, tapi suatu kewajiban. Sayangnya, baru hanya segelintir orang yang sadar akan hal tersebut, apalagi di negara tercinta ini. Mau marah rasanya setiap melihat orang-orang membuang sampah seenaknya melalui jendela mobilnya. Baiklah, kalau belum bisa merubah mereka, setidaknya dimulai dari diri sendiri, itu yang menjadi prinsipku. Semoga akan lebih banyak orang yang tergerak untuk ikut menjaga negara dan bumi kita tercinta ini, bukan hanya sekedar tau saja.
"it's not about knowing right, but doing right" VC
No comments:
Post a Comment