Thursday, April 30, 2015

Hari Enam

Beberapa hari ini, hampir seluruh media massa ramai memberitakan tentang eksekusi mati terpidana pengedar narkoba. Hampir seluruh pengguna sosial media seperti Facebook pun tidak ketinggalan membahasnya. Setiap aku membuka News Feed, yang muncul adalah postingan-postingan mengenai hal itu. Ada pro, ada kontra tentunya. Apalagi setelah eksekusi telah selesai dilakukan bagi 8 terpidana mati dan menyisakan penundaan bagi 1 orang terpidana mati tersebut. Tiba-tiba sepertinya semua orang menjadi ahli politik, ahli hukum, ahli kemanusiaan.

Hmmm, aku bukan penggemar perdebatan, bukan juga penikmat pro dan kontra. Tapi, beberapa pemikiran muncul di benakku :
1. Memang benar, para pengedar narkoba itu jahat. Demi mendapatkan keuntungan pribadi, mereka rela mengorbankan orang lain, bahkan sampai dengan nyawa orang lain tersebut pun harus direnggut karena penggunaan obat-obatan yang mereka produksi atau jual-belikan. Memang benar, Indonesia sebagai negara hukum yang berdaulat, mempunyai aturan mainnya sendiri, barang siapa tertangkap mengedarkan narkoba, hukuman mati adalah mutlak. Hampir setiap pengumuman dalam penerbangan menginformasikan hal tersebut, belum lagi plang-plang besar yang terpasang di bandara dan beberapa tempat umum lainnya. Aku bukanlah seorang yang mendukung hukuman mati, karena aku percaya setiap orang bisa berubah dan bisa diampuni. Jika ada jalan selain hukuman mati (hukuman seumur hidup dengan pengasingan di pulau terpencil misalnya), aku rasa itu lebih baik. Sayangnya memang di Indonesia, meski terpidana sudah dipenjara, mereka tetap bisa melancarkan aksinya, tentunya karena dukungan petugas-petugas di sekitarnya yang bermental korupsi, dimana menurutku orang-orang ini juga tidak lebih baik daripada pengedar narkoba tersebut. Karenanya aku juga percaya pada sebuah norma dimana setiap orang wajib menghargai peraturan dan hukum yang berlaku dimana mereka menginjakkan kakinya. Jadi jika pemerintah Indonesia memutuskan hukuman mati adalah jawaban, para pelaku seharusnya sudah mengerti hal itu, begitu pula dengan pihak-pihak lain yang berada di belakangnya, langsung atau tidak langsung.
Tapi, bukan berarti pula mereka boleh dipojokkan oleh seantero pengguna sosmed. Ada yang bilang syukurin, ada yang menepuki, ada yang tertawa, ada yang memaki-maki, ada pula yang tiba-tiba menjelma menjadi "Tuhan" dengan berkata yakin bahwa terpidana mati tersebut akan masuk neraka, selamat bertemu dengan-Nya untuk menjelaskan, atau bahkan bahwa Tuhan tidak akan mengampuninya, buat apa bernyanyi-nyanyi memuji Tuhan sebelum mati. Sebuah pertanyaan, siapakah kita ini sehingga bisa menghakimi seperti itu? Pantaskah kita bertindak seperti itu? Apakah seluruh hidup kita telah melakukan yang terbaik sehingga kita yakin bahwa kita tidak lebih bersalah dari terpidana-terpidana mati tersebut? Apakah kita merasa kita telah menjadi sama seperti Dia sehingga kita bisa tau apa yang Dia pikirkan? Kita tidak pernah tau bagaimana hubungan pribadi mereka sekarang antara orang-orang tersebut dengan-Nya, meskipun status mereka adalah pengedar narkoba. Namanya juga hubungan pribadi, maka hanya antara Tuhan dan orang tersebut yang tau. Memangnya kita tau bahwa Tuhan akan menempatkan mereka di neraka? Memangnya kita tau apakah Tuhan akan mengampuninya atau tidak? Jadi sekali lagi, pantaskah kita menghakimi?

2. Dalam semua ilmu ekonomi, aku tau, ada permintaan maka ada supply. Begitu pula dengan narkoba, menurutku. Ada pengedar, karena ada pemakai. Sekali lagi, aku tau narkoba itu jahat. Dan mungkin orang-orang akan mengataiku karena aku tidak pernah merasakannya, karena tidak ada orang dalam keluargaku yang pernah merasakan akibat buruk dari narkoba. Tapi, menjadi pemakai adalah pilihan. Pemakai juga jauh tidak lebih baik daripada pengedarnya. Orang menggunakan narkoba dengan sadar. Mereka bisa memilih untuk menjauhinya, memilih untuk tidak memakainya. Aku juga bukan orang suci. Main-main di dunia malam, ke club, juga menjadi hal-hal yang menyenangkan bagiku. Kalau kemudian di setiap club yang aku datangi aku memang hanya menikmati dance atau menari-nari berjam-jam, sambil sesekali minum bir, dan bukannya menenggak obat-obatan aneh seperti kebanyakan orang lainnya yang ada di club, maka itu juga adalah pilihan. Kalau aku bisa memilih, maka semestinya demikian pula dengan orang lain. "Dunia rasanya runtuh, aku adalah orang yang paling menderita di dunia ini; aku sakit hati, rasanya mau mati saja; orangtuaku tidak mempedulikanku, mereka terlalu sibuk; oh aku butuh pelarian!!" dan jadilah mereka berlari kepada narkoba. Hello, kamu doank? Kamu doank orang yang paling menderita di dunia ini? Apa kabar Nick Vujicic? Apa kabar Jonathan Pitre, Lizzie Velasquez? Atau Habibi? Atau Stephani Handojo? (kalau kamu tidak tau siapa orang-orang itu, silahkan google). "Aku dijebak temanku, sekarang aku tidak bisa tanpa narkoba". Yah, dijebak oleh orang lain untuk masuk dalam lingkaran narkoba memang suatu peristiwa yang menyedihkan. Tapi bukan berarti tidak bisa keluar dari lingkaran tersebut, kan? Memang butuh perjuangan dan menyakitkan, hanya masalah mau atau tidak kan? Jadi, apakah para pemakai ini bisa disebut sebagai "hanya korban" saja? Ok, mari kita memisahkan anak-anak kecil yang masih di bawah umur dengan sebutan "korban". Di luar itu, bukankah perlu memilah-milah kembali dalam penggunaan kata-kata tersebut? Sekali lagi, aku bukan pengguna narkoba, keluargaku tidak ada yang menjadi "korban" narkoba, teman-temanku tidak ada yang menjadi pengguna narkoba, hanya karena kami memilih untuk tidak menggunakannya, memilih untuk tidak dekat-dekat dengan lingkungannya, memilih lingkungan tempat kami bergaul sehari-hari, jadi mungkin aku memang tidak tau bagaimana perasaan orang-orang ataupun keluarga yang terlibat di dalamnya.

Kembali ke bahasan awal, putusan sudah dijatuhkan, eksekusi pun sudah dijalankan, jadi hormati saja, hormati keputusan pemerintah, hormati keluarga terpidana dan terpidana mati tersebut. Aku tau banyak yang cinta Indonesia sehingga tiba-tiba menjadi sarkastis, membela negara dengan kata-katanya yang menggebu-gebu, saling serang dan menjatuhkan dalam sosial media. Hanya, kalau boleh berpendapat, cinta negara alangkah baiknya jika diwujudkan dalam perbuatan, urusan hukum, urusan politik, percayakan kepada pemerintah yang mestinya sudah ahli dalam hal ini. Yang pelajar yah belajar dengan baik, yang pekerja yah berkarya dengan baik, agar suatu hari bisa memberikan suatu sumbangsih yang nyata bagi kemajuan bangsa, bukan hanya dalam kata-kata. Atau, mungkin sudah ada yang kamu berikan bagi Indonesia yang kamu sayangi ini? Belum? Yuk kita perbaiki diri sendiri dulu, tidak ada salahnya melakukan tindakan nyata yang terbaik bagi orang-orang di sekitar kita, bagi keluarga misalnya, kasih Papa dan Mama jalan-jalan keliling Indonesia dan luar negeri, kasih anak untuk bisa sekolah di sekolah yang bagus dan mendapatkan pendidikan terbaik, kasih pasangan kita makan malam yang istimewa di restoran impiannya, sudahkah? Atau mungkin hanya tindakan untuk memajukan diri sendiri sehingga kita bisa punya rumah sendiri, mobil, penghasilan yang bagus, travelling, sudahkah?

"life is about choices, you only live once, but if you choose right, once is enough" VC

Wednesday, April 15, 2015

Hari Lima

Hari itu adalah hari di minggu ketiga dimana aku menjadi guru les private dadakan. Kalau ku pikir-pikir lagi sekarang, institusi les private ini sepertinya agak 'abal-abal' alias kurang profesional. Seingatku, aku tidak pernah melakukan interview atau bahkan bertemu dengan pengelolanya sekalipun, tapi mereka menerima dan mempekerjakanku hanya berdasarkan konfirmasi by telpon. Entah lebih kepada bodoh atau kebutuhan, aku oke-oke saja dan menerima tawaran mereka tersebut. Hmmm, kalau seandainya saja aku tidak dibayar juga mungkin aku tidak bisa apa-apa yah, dasar anak daerah yang butuh duit, haha.

Yah, sejak semester 3, aku sudah melakukan berbagai macam pekerjaan sampingan. Sebagai anak daerah yang merantau ke Jakarta, aku tidak pernah menyangka bahwa hidup di Jakarta akan semahal ini. Uang bulanan yang dikirim Papa untuk membayar kos dan makan sehari-hari tentunya tidak pernah cukup. Diam-diam, tanpa sepengetahuan Papa dan Mama, aku mulai kerja sampingan. Kalau ketahuan Papa dan Mama, sudah pasti mereka akan marah dan menyuruhku untuk konsentrasi belajar, mengirimkan uang lebih banyak, tapi aku tidak tega. Tidak pernah sekalipun keluar kalimat dari mulutku untuk minta uang tambahan. Berapapun uang yang Papa kirimkan untukku, aku cukup-cukupkan saja setiap bulannya. "Va, uangnya cukup bulan ini? Masih ada uang?", begitu selalu tanya Papa setiap menelponku. "Cukup kok, Pa, masih ada", dan begitu pula jawabku setiap kali, padahal saat itu mungkin aku sudah harus mencongkel-congkel celenganku di kamar. 

Tidak, aku tidak akan pernah mau minta uang tambahan dari Papa. Aku tau, berapa banyak biaya yang harus Papa keluarkan untuk memenuhi kebutuhan kami semua setiap bulannya. Adikku yang pertama saja baru masuk kuliah, pasti sudah habis biaya yang cukup besar. Belum ditambah dengan adik kecilku yang masih sekolah. Jadi solusinya, aku harus mencari uang tambahan sendiri.

Melihat iklan yang biasa sering ditempel di kampusku, aku pun mendaftarkan diri untuk menjadi guru les anak-anak SD. Meskipun tidak ada bekal mengajar sama sekali, aku nekat saja. Entah bagaimana caranya aku pun diterima, dengan upah bayaran Rp 20.000,- per sekali mengajar yang berdurasi +- 2 jam. Perjalanan menuju ke rumah anak tersebut sendiri mengharuskanku 2x ganti angkot serta berjalan kaki. Saat pulang lebih mending, hanya 1x naek angkot ditambah perjalanan yang jauh lebih panjang. Total biaya perjalanan yang dihabiskan saat itu kurang lebih 5ribu rupiah, jadi yang aku dapatkan hanyalah Rp 15.000,- saja. Meski demikian, aku jalani dengan senang. 

Tapi sepertinya, mengajar les bukanlah bidangku. Hari itu seperti biasa aku sudah berangkat lebih cepat menuju ke rumah anak didik-ku. Cuaca agak kurang bersahabat, mendung. Aku berdoa agar jangan sampai hujan, karena aku tidak membawa payung, belum lagi jalan masuk menuju rumahnya masih lumayan jauh dari pemberhentian angkot terakhir. Sia-sia, apa yang aku takutkan justru terjadi. Tepat saat aku sudah tiba di pemberhentian, hujan mulai turun. Mau ga mau, aku tetap turun. Hujan pun semakin deras. Aku berusaha berjalan dengan menumpang-numpang teras depan rumah-rumah yang kulewati di sepanjang jalan, tetap saja hal itu tidak membantu karena hujan benar-benar turun dengan sadisnya. Sesekali aku berhenti sebentar untuk berteduh karena bajuku mulai basah, sembari cemas melihat jam mungil di tanganku yang menunjukkan bahwa aku sudah telat.

Tidak seberapa lama, aku nekat berjalan lagi, tapi hujan memang tidak reda-reda. Bajuku kini sudah benar-benar basah, dari atas sampai ke bawah. Rambutku acak-acakan, menggigil kedinginan, namun hujan tetap saja mengguyur dengan sesuka hati. Tidak mungkin aku datang ke rumah orang dengan tampilan basah kuyup seperti ini, mana jam sudah menunjukkan bahwa keterlambatanku sudah tidak dapat ditolerir lagi. Pasrah, aku mengangkat handphone ku untuk menelpon institusi yang mempekerjakanku dan minta izin bahwa aku tidak dapat datang mengajar. Aku sudah bisa membayangkan bagaimana nasib karir sebagai guru private yang baru kujalani ini.

Merasa sudah tidak ada yang perlu aku pertahankan lagi, aku pun berjalan gontai menuju ke arah berlawanan untuk menuju halte metromini yang biasa membawaku pulang. Lagi-lagi hujan pun tetap tidak bersahabat, semakin deras memuntahkan airnya ke bumi. Pasrah, dengan seluruh tubuh yang menggigil dan basah tentunya, aku terus memaksakan diri berjalan. Seakan belum selesai tragediku hari ini, ternyata jalan kulalui mulai banjir. Aku teringat bahwa memang daerah ini terkenal dengan banjirnya pada saat hari hujan, ternyata benar. Jadilah aku menerobos banjir yang mulai setinggi dengkul kakiku. Perjalanan yang mestinya biasa kutempuh sekitar 15 menit jalan kaki, serasa menjadi 1 jam di tengah hujan dan banjir ini. 

Dengan susah payah akhirnya aku tiba di halte dan naik ke metro mini, aku hanya ingin segera pulang, pikirku saat itu. Namun jika kuingat moment itu kembali, aku ternyata hebat juga, tidak sampai cengeng dan menangis, entah bagaimana kalau orang lain yang menghadapi situasi tersebut. Rasa sedih dan kecewa memang besar sekali kurasa saat itu. "Ternyata, cari uang susah sekali yah, mau dapat uang 20ribu aja begitu banget pengorbanannya", begitu pikirku sendiri kala duduk di dalam metro mini itu. Tapi, aku jadi sungguh-sungguh menghargai perjuangan Papa selama ini yang bekerja keras mencari uang demi kami semua.

Metro mini itu tidak hanya membawaku pulang menuju kos, tapi membawaku kepada kesadaran baru bahwa kini aku tau cari uang tidak gampang, jadi aku harus lebih menghargai dan menggunakan uang dengan bijaksana. Aku pun harus berjuang, agar Papa pun tidak harus bekerja seumur hidupnya demi kami. Aku harus segera mandiri secara finansial sehingga tidak perlu merepotkan Papa lagi. Meskipun memang akhirnya karirku sebagai guru les berakhir, karena ternyata Mama si anak tersebut pun tidak mau memakai jasaku lagi gara-gara aku tidak muncul hari itu, kejadian ini memberikan pengalaman yang sangat berarti buat perjalanan hidupku selanjutnya. 

"it took a little bit pain to appreciate what you have, but it will be worth it, just fight for whatever you want, as it's possible" VC

Wednesday, April 8, 2015

Hari Empat

Kondisi Papa pada hari ke-8 setelah chemo drop, Papa semakin tidak nafsu makan, dadanya mulai sakit lagi, terutama pada saat menelan makanan. Aku tau, seperti yang sudah dijelaskan dokter yang menangani Papa di Singapura, seperti yang sudah dijelaskan oleh adik iparku yang juga Oncologist, sakit tersebut terjadi sebagai efek samping dari 30x Radiotherapy yang sudah dijalani oleh Papa. Tapi keadaan ini tidak bagus. Belum lagi suhu badan Papa yang sempat mencapai 38,5 derajat celcius. Yah, sebagai konsekuensi pasca chemo, aku dan Mama harus rajin-rajin mengukur suhu badan Papa, karena demam bisa menjadi efek samping Chemo, selain mual, muntah dan tidak nafsu makan.

Sudah berhari-hari Papa hanya minum susu nutrisinya saja. Ini tidak bagus. 
"Ce, minta Papa cek darah dhe", begitu chatting-an dari adik iparku. "Supaya bisa cek apakah ada infeksi atau bagaimana", sambungnya.

Segera aku mendaftarkan Papa untuk mendapatkan tes darah, untungnya salah satu laboratorium di kotaku melayani pengambilan darah ke rumah, karena jelas Papa tidak kuat jika harus diajak kesana. Berhubung esok hari tanggal merah, mereka menyanggupi untuk melakukannya lusa.

Hari yang ditentukan tiba, Papa pun menjalani pengambilan darah. Jam 2 siang adalah waktu yang ditentukan untuk mengambil hasil, jam 3 lab tersebut akan tutup dikarenakan weekend. Jam 3 kurang 15 aku berhasil tiba disana, agak telat memang karena dapat "tugas negara" mengantar Paman ku. Tak sabar aku pun segera membuka hasilnya. Begitu terkejutnya aku melihat hasil tes darah Papa. Yang lain aku tidak begitu mengerti, tapi untuk trombosit, aku cukup familiar karena sering mendengar tentang penyakit demam berdarah.
16.000 dari nilai rujukan normal 150.000, kok rendah sekali, begitu batinku. Segera kukirimkan hasilnya kepada adik ku dan adik iparku. Mereka pun tidak kalah terkejutnya. Suatu tindakan harus segera diambil.

"Ce, bawa Papa ke Singapura segera, Papa musti di-opname. Aku tidak yakin RS di Pontianak mempunyai kapabilitas untuk menangani pasien after chemo", pinta adik iparku segera. "Aku tidak yakin Papa bisa loh, lagian kalau sekarang sudah tidak ada jadwal pesawat lagi", jawabku dengan lemas. Memang, salah satu kerugian tinggal di kota kecil adalah tidak adanya fasilitas penerbangan direct keluar negeri. "Ok, kalau gitu paling tidak ke Jakarta dulu, setidaknya mereka lebih baik daripada di Pontianak", sambungnya lagi.

Dan benar saja, Papa sempat menolak awalnya ketika aku pulang dan membujuknya untuk berangkat segera. Cape, lemes, itulah jawaban Papa. Telpon dari adikku pun tidak berhenti-henti untuk kusambungkan kepada Papa dan Mama, bersama-sama kami membujuk Papa. Akhirnya, setelah "drama kecil" yang terjadi dimana aku sempat menangis karena ke-sensi-anku sore itu mengingat betapa khawatirnya aku terhadap kondisi Papa, Papa pun setuju untuk berangkat keesokan paginya bersama Mama dan aku, sekeluarga, ke Jakarta. Setidaknya aku bisa menarik nafas lega sedikit.

Malam hingga keesokan pagi pada saat kami sudah berada di dalam pesawat, tidak henti-hentinya aku berdoa agar Papa kuat sampai ke Jakarta dan mendapatkan RS yang bisa memberikan perawatan sementara yang terbaik buat Papa sebelum nantinya terbang ke Singapura lagi. Syukurlah, Tuhan sungguh sangat baik. Segalanya berlangsung dengan sangat lancar. Meski awalnya kami harus berpindah RS karena RS pertama yang kami tuju lebih merekomendasikan agar Papa dibawa ke RS yang sekarang (dan memang kedua RS tersebut masih berada dalam 1 group yang sama), tapi sungguh semuanya berjalan baik, puji Tuhan. Dengan tujuan untuk perbaikan kondisi, RS ini pun sangat terbuka dan profesional dalam menangani kondisi Papa.

Hari ini, Papa sudah menjalani perawatan hari keempat. Kondisi Papa berangsur membaik. Sudah mulai nafsu makan, request jenis makanan (pengen makan bakmie kepiting khas kota kami, tapi mana mungkin bisa beli disini T_T), sakit di dadanya sudah semakin berkurang, air mukanya semakin cerah dan sudah mulai bisa "ke belakang" setelah 6 hari tertahan (tentu saja, karena tidak ada makanan yang Papa makan selama beberapa hari sebelumnya). Kata dokter, setelah hasil tes darah esok hari lebih baik, maka Papa sudah diperbolehkan pulang. Eitss, belum bisa pulang ke rumah, karena 2 hari kemudian Papa pun sudah harus terbang kembali ke Singapura untuk menjalani chemotherapy siklus ke-empatnya. Sebuah perjalanan dan proses yang panjang dan melelahkan untuk kesembuhan Papa, tapi Papa dan kami akan kuat menjalaninya.

Cepat sembuh, Papa, kami sangat menantikan Papa sembuh, we love you, Papa :)

"no matter how old you are today, as long as I'm living in this world, you will always be my little girl", my dad once said to me - VC 

Wednesday, April 1, 2015

Hari Tiga

Hari ini aku akan berangkat ke suatu acara seminar bersama teman-teman satu team ku. Malas membawa mobil, mengingat kemacetan Jakarta yang sudah di luar batas kewajaran, aku minta dijemput saja. Seperti biasa, aku akan ditelpon kalau mereka sudah sampai di depan kos ku. Aku masih duduk di atas kasur sambil memelototi acara TV ketika tiba-tiba handphone ku berbunyi. "Woi, ayo keluar sekarang yah, kami sudah di depan nih", seru suara di seberang sana. "Ok, tunggu sebentar yah", jawabku.

Bergegas aku mematikan TV, AC, dan lampu kamar, memakai sepatuku dan berjalan keluar. Sesampainya di depan pagar, sebuah mobil Nissan Livina berwarna silver telah menanti. Segera aku membuka pintu di bagian tengah dan masuk. Di dalamnya sudah ada 3 orang temanku menanti, sambil mengunyah makanan, kelaparan juga rupanya mereka. Mobil pun kemudian mulai meluncur menuju ke tempat acara.

"Ce, mau ga nih cemilan?", Rico menawarkan sambil menjulurkan sebungkus Chitato. "Mau dunk, laper belum makan tau", seruku seraya menyambarnya dari tangannya. Kembali Rico bertanya kepadaku, "Ce, ini boleh buang di depan ga? Buangin dunk", pinta Rico sambil menyerahkan bungkusan plastik snack lainnya yang sudah kosong. Belum sempat aku menjawab, terdengar suara dari balik belakang kemudi di bangku depan, "Va lagi ditanyain, mana mungkin boleh, dia kan miss go green", ujarnya sambil tertawa. "Iya, emang ga boleh, masa buang sampah sembarangan, sini", semprotku sembari mengambil bungkusan plastik tersebut dari tangan Rico dan menyimpannya.

Yah, Julio memang menjulukiku "Miss Go Green" sejak dia memergokiku sedang memunguti bekas staples yang berserakan di lantai. "Ya elah, bekas staples aja dipungutin, rajin amat", celetuknya saat itu. "Biarin, namanya juga sampah, yah musti dibuang ke tempat sampah, kalau bukan kita siapa lagi", celotehku saat itu. Aku memang sangat peduli dengan kelestarian lingkungan, meskipun baru hal-hal kecil saja yang kulakukan seperti selalu membuang sampah di tempat sampah. Ketika tidak menemukan tempat sampah untuk bungkus permenku atau sekedar kertas bekas selotip amplop, aku lebih rela meletakkannya dulu di dalam tas ku sampai menemukan tempat sampah dan membuangnya di tempat yang seharusnya. Hal ini sering menimbulkan ejekan-ejekan kecil dari teman-temanku seperti pada kasus bekas staples. Tapi aku cuek saja, tidak peduli, mau dikata kuno, kolot, konservatif, aku tidak ambil pusing. Aku yakin ini adalah hal yang benar untuk dilakukan. Meski ga ngerti-ngerti amat tentang global warming, tapi aku cukup peduli dengan bumi tempat tinggalku ini.

Masih teringat beberapa tahun yang lalu saat teman baikku, Grace, berpacaran dengan seorang WNA yang berasal dari China. Saat itu kami sedang berkendara bersama di dalam mobil menuju ke suatu acara pula. Saat Grace hendak membuang kertas keluar dari jendela, si pacarnya itu -- yang sekarang sudah menjadi mantan tentunya -- mencegahnya membuang kertas itu dan mengambilnya. "Aku saja cinta loh sama negara kalian, masa kalian sendiri tidak cinta", ujarnya saat itu. Aku merasa tertegun dan sangat malu mendengar ucapannya itu. Yah, dia saja yang orang luar bisa menghargai negara kami, masa kami sendiri tidak bisa menjaga lingkungan kami sendiri. Sejak saat itu aku memang memutuskan untuk tidak pernah lagi membuang sampah sembarangan.

Hal yang sama terjadi pula pada saat acara pernikahanku. Tidak berminat mengikuti trend yang sedang berkembang saat ini, aku mati-matian tidak mau menggunakan acara pelepasan balon selesai acara pemberkatan dari Gerejaku -- meskipun di kemudian hari ada beberapa pula yang bertanya kenapa tidak pakai acara lepas balon, kan keren --. "Ga ah, ingat global warming", kataku kepada team WO-ku yang menanyakan perihal acara pelepasan balon tersebut. Terbayang olehku 100 balon yang terbang tersebut entah kemana dan entah kapan akan hancur. Kelvin, WO-ku, hanya tertawa mendengar jawabanku tersebut. Untungnya, aku punya calon suami yang memang sudah paham seperti apa aku dan dia pun meng-amini.

Menjadi berbeda memang tidak mudah, sering terkesan kaku dan terlalu taat peraturan, padahal turut serta berperan aktif menjaga lingkungan bukanlah suatu peraturan menurutku, tapi suatu kewajiban. Sayangnya, baru hanya segelintir orang yang sadar akan hal tersebut, apalagi di negara tercinta ini. Mau marah rasanya setiap melihat orang-orang membuang sampah seenaknya melalui jendela mobilnya. Baiklah, kalau belum bisa merubah mereka, setidaknya dimulai dari diri sendiri, itu yang menjadi prinsipku. Semoga akan lebih banyak orang yang tergerak untuk ikut menjaga negara dan bumi kita tercinta ini, bukan hanya sekedar tau saja.

"it's not about knowing right, but doing right" VC

Tuesday, March 31, 2015

Hari Dua

Sedang asik-asiknya mengunyah makanan, tiba-tiba aku merasakan ada yang janggal dengan kunyahanku, terasa ada yang keras, hmmm. Feeling-ku mengatakan seperti mengunyah potongan gigi. Begitu kuambil ternyata benar, beberapa pecahan gigi terlihat disana, yaikss. Dengan bantuan lidah, terasalah bahwa gigi geraham di sisi kanan atas berlubang, hadehh, ini disaster.

Aku : Ma, itu dokter gigi yang dulu aku pernah kesana, namanya siapa yah?
Mama : Yang mana? Krisna?
Aku : Bukan, yang satu lagi, itu kan teman Papa kalau Krisna.
Papa : Yosep?
Aku : Nah, iyah benar Pa. Masih praktek ga yah? Mau kesana, gigiku berlubang nih, mau minta ditambal aja lah.
Papa : Ke Om Krisna aja lah.
Aku : Ah, ga mau ah, dia suka ga mao terima bayaran, ga enak jadinya (Om Krisna tidak pernah mau terima bayaran jika kami memeriksakan gigi atau berobat disana)
Mama : Ngga lah, udah mau kok sekarang, tar Mama telpon dulu buat janji.
Aku : Y udah dhe kalau gitu.

Saat sedang bersantai siang hari sambil menemani Papa di rumah, handphone-ku berbunyi, ternyata dari Mama.

Aku : Hallo, Ma.
Mama : Itu Om Krisna katanya bisa hari ini, langsung datang aja nanti jam 6 sore yah.
Aku : Oh gitu, oke dhe Ma.

Jam 5.30 aku pun berangkat menuju tempat praktek Om Krisna. Bahhh, hujan sejak tadi siang membuat jalanan sedikit macet. Jam 6 pas aku tiba di tempat prakteknya.

Aku : Hai, Om, pa kabar?
Om Krisna : Hai, iya, gimana? Sini langsung duduk aja.
Aku : Iya nih, Om, gigiku pecah tadi, jadi berlubang dhe, kayaknya gede dhe lubangnya.
Om Krisna : Ok, biar Om periksa dulu yah.

Sudah lama tidak pernah duduk di kursi ini, rasanya kok gemetaran yah. Meski aku cukup pemberani dan tahan banting, tapi berasa jiper juga saat mau diperiksa giginya. Tak lama kemudian Om Krisna pun sibuk memeriksa gigiku, sedangkan aku, aku lebih memilih untuk memejamkan mataku selama dia mengerjakan tugasnya, jujur aku takut melihat alat-alat yang dia pergunakan masuk ke dalam mulutku.

Om Krisna : Wah, wah, ini mah harus dicabut (gumamnya)
Aku : Ermm...ermmm...(karena tidak bisa bicara banyak dalam posisi mulut terbuka seperti ini)
Om Krisna : Om bersihin karang giginya dulu yah.
Aku : Boleh, Om.

Dan selanjutnya aku menyesali jawabanku ini.
Hal yang kudengar berikutnya adalah suara mesin bercampur dengan alatnya yang kretak kretak di sekitar area gigi dan gusiku, sakitnya minta ampun. Terutama saat di area gigi sebelah kiri yang tidak pernah kugunakan, konon katanya semakin tidak digunakan maka karang gigi semakin banyak dan semakin kotor. Ini adalah pengalaman 30 menit terlama dalam hidupku. Ingin rasanya cepat-cepat selesai dan kabur dari kursi itu. Setiap menahan sakit, aku berusaha meregangkan kakiku sejauh-jauhnya, entah kenapa aku berharap itu akan mengurangi rasa sakitnya.

Om Krisna : Nah selesai, begini kan lebih enak, sudah bersih gigi kamu. Itu yang berlubang giginya sudah dikasih obat yah, nanti besok kamu balik lagi untuk dicabut.
Aku : Hah? Jadi memang perlu dicabut yah? Sakit ga yah?
Om Krisna : Ga lah, ga sakit kok, tergantung itu giginya seperti apa menancap ke dalamnya, mudah-mudahan tidak susah cabutnya.
Aku : (dengan muka melongo) Om, ga bisa ditambal aja kah? *muka memelas dan berharap*
Om Krisna : Ga bisa, percuma, nanti malah akan sakit ke depannya, udah cabut aja, ga keliatan juga. 
(Sambil berbicara ke asistennya) Ini langsung dibuatkan janji aja besok jam 6 sore lagi yah untuk Ibu ini.
Aku : Oke dhe, Om (hanya bisa pasrah)

Sesampainya di rumah, aku bercerita pada Mama bahwa gigiku akan dicabut besok. Aku ketakutan. Rasanya kembali seperti anak kecil. Aku memikirkan terus bagaimana yah rasanya, sudah lama sekali aku tidak cabut gigi, sakit ga yah, mana giginya besar, begitu terus berputar-putar. Mama dan Papa mengharuskan aku untuk tetap datang esok hari dan agar mau dicabut giginya, benar-benar pasrah.

Keesokan harinya, rasa takut semakin menjadi-jadi, apalagi saat jam dinding sudah menunjukkan pukul 4 sore. Aku sempat tertidur sejenak, agak-agak berharap kalau tertidur sampai dengan jam 7 malam. Tapi Mama lebih pintar, jam 4.30 aku sudah dibangunkan, mau ga mau harus bersiap-siap berangkat. Sesuai pesan Om Krisna, aku makan dulu sebelum jalan, dan kali ini diantar adikku karena disuruh oleh Papa. Dengan membuat tanda salib dan mengucap doa, aku pun berangkat.

Sesampainya di tempat praktek, Om Krisna sudah siap dengan 'perlengkapan perangnya'. 
Om Krisna : Ayo, langsung aja yah.
Aku : Baik, Om.

Begitu terduduk di kursi pasien, aku langsung memejamkan mataku, tidak berani melihat alat-alat apa saja yang digunakan. Jantungku berdegup kencang, seperti akan digiring ke area tembak. Sambil berdoa di dalam hati, aku berusaha sekuat tenaga membayangkan hal-hal yang menyenangkan. 7 tattoo sudah aku miliki, tidak sedikitpun aku merasa sakit atau ketakutan saat membuatnya, tapi dihadapkan dengan seorang dokter gigi, aku mati kutu.

Rasanya sudah 1 jam aku duduk di kursi itu, padahal tidak sampai 15 menit.
Om Krisna : Oke, sudah boleh bangun, sudah selesai.
Aku : Hah? Sudah selesai, Om? Giginya sudah dicabut?
Om Krisna : Sudah kok.
Aku : Kok ga berasa yah? Mana giginya? *serasa tidak percaya*

Woahhhh, itu adalah gigi tergede yang pernah aku lihat, seram rasanya membayangkan gigi sebesar itu dicabut dari mulutku. Tapi aku bersyukur, sudah selesai yeayyy. Om Krisna memberikanku resep obat untuk diminum sebagai penahan sakit, aku pun bisa bernafas lega kembali.

31 tahun aku hidup, sepertinya ini adalah salah satu pengalaman yang paling menyeramkan dalam hidupku *usap keringat*, padahal yang dibutuhkan hanyalah sedikit keberanian untuk memulainya.

"it's every little thing in your life that have grown you up, be brave" VC


Monday, March 30, 2015

Hari Satu

Yayy, Papa pulang hari ini. Hari yang kami nanti-nantikan pun tiba. Setelah 1,5 bulan Papa menjalani pengobatan Chemoterapy yang ke-2 dan ke-3 serta Radiotherapy 30x di Singapura, akhirnya Papa bisa pulang kembali ke rumah untuk istirahat sejenak sebelum lanjut ke treatment berikutnya. 

Seperti biasa, pukul 6 pagi Mama sudah bangun, berbenah di belakang, aku pun masih guling-gulingan di atas kasur, menunggu saatnya Mama mandi. Setelah Mama mandi, menjelang pukul 7 aku bangun dan beberes juga. Pukul 8 kurang seperempat, kami sudah siap untuk berangkat ke kantor. Tak ada yang spesial pagi itu, jujur, rutinitas yang membosankan menurutku, jika dibanding kehidupanku di Jakarta yang, hmm, lebih berwarna.

Pukul 10.30 kami siap-siap pulang lagi ke rumah agar Mama bisa menyiapkan makan siang untuk Pamanku yang sejak 2 minggu yang lalu datang berlibur ke Indonesia. Tapi kali ini aku mengusulkan bagaimana kalau kami membeli makanan jadi saja di luar, meskipun sebenarnya memang aku lagi ingin makan bakmie kesukaanku, hehe. Kasian Mama juga, setiap siang harus pulang kemudian memasak, kemudian berangkat lagi ke kantor. Mama setuju, kami pun pulang dengan membawa 3 bungkus bakmie.

Sesampainya di rumah, 3 bungkus bakmie dihidangkan dan kami makan dengan lahap. Simple, tidak sampai 30 menit semuanya selesai makan, tidak seperti sebelum-belumnya dimana paling tidak Mama perlu menghabiskan waktu +- 1 jam untuk memasak, mempersiapkan makan siang kemudian makan bersama. Ditambah lagi aku tidak bisa memasak, dan memang tidak berminat belajar memasak juga, jadilah aku tidak bisa membantu Mama menyiapkan makan siang.

Selesai makan, aku pun membantu Mama membenahi tempat tidur yang nanti akan digunakan Papa, mengganti sprei dan merapikannya kembali. Kata Mama, "Ganti yang baru biar segar, kan Papa sudah mau pulang", dengan raut wajah yang sangat gembira. Dalam hati, aku sangat terharu mendengar perkataan Mama itu. Yah, sudah 1,5 bulan Papa tidak berada di rumah, aku tau Mama pasti kesepian, hanya Mama begitu tegar dan tidak pernah menunjukkannya kepadaku.

Pukul 12.30 kami pun berangkat ke bandara, tak lupa di perjalanan kami singgah untuk membeli nasi ayam pesanan Papa tadi lewat telepon. Sesampainya di bandara, ternyata Papa dan adikku belum sampai juga. Jadilah kami menunggu sekitar 15 menit. Mama sudah cemas, celingak-celinguk sana-sini menanyakan apakah pesawat yang ditumpangi Papa sudah sampai atau belum. Puji Tuhan tak lama kemudian, kami melihat rombongan penumpang mulai keluar melalui pintu kedatangan, tapi Papa dan adikku belum terlihat juga. 2 petugas bandara membawa kursi roda melewati tempat kami berdiri dan menuju ke arah pintu kedatangan penumpang. "Oh, Tuhan", dalam hatiku berkata, "apakah ini untuk membawa Papa, apakah Papa sedang selemah itu fisiknya". Syukurlah, ternyata kursi roda itu bukan untuk Papa  karena kemudian Papa dan adikku mulai berjalan keluar ke arah kami.

Senyum merekah di wajah Mama menyambut kedatangan Papa, begitupun aku. Tapi, mau menangis aku rasanya ketika akan memeluk Papa. Papa yang selama ini selalu kelihatan gagah dan bersemangat, telah menjelma menjadi seseorang yang kurus dan tampak lemas. Belum pernah sepanjang ingatanku selama 31 tahun ini bahwa Papa pernah sampai sekurus ini. Menggunakan topi untuk menutupi kepalanya yang telah botak akibat efek samping Chemotherapy serta jaket yang kegedean, aku memeluk Papa untuk mengucapkan selamat datang sambil menahan tangisku. Yah, aku tidak mungkin menangis, aku tidak boleh menangis, karena jika aku melakukan itu, bagaimana dengan perasaan Papa, bagaimana dengan Mama, bagaimana dengan adikku. Sebagai anak tertua di keluargaku, aku harus kuat, aku harus pura-pura kuat, meskipun aku tau aku tidaklah sekuat itu.

Aku adalah orang yang cengeng, sangat cengeng. Hal-hal kecil saja bisa menyentuh hatiku dan membuatku meneteskan air mata. Melihat seorang bapak tua yang gemetaran ketika mengantri panjang untuk membelikan handphone diskonan buat anaknya saat aku masih bekerja di kantoran dulu, menonton video pendek di Youtube tentang "Sepucuk Surat dari Orangtua kepada Anaknya", melihat adegan perjuangan seorang Merry Riana saat membuktikan diri kepada sponsornya Alva pada film "Mimpi Sejuta Dollar", semua itu sudah sanggup untuk membuatku menangis. Dan sekarang, setiap hari, setiap saat aku harus melihat keadaan Papa yang lemas, muntah-muntah karena efek samping obatnya, kaki-kakinya yang kurus, wajahnya yang penuh kerutan saat ia tidur, membuatku ingin menangis meraung-raung sejadi-jadinya. Belum pernah aku sedekat ini dengan Papa sejak ia divonis positif kanker. Sebelum-belumnya, aku hanya sempat mendampinginya sebentar karena kesibukanku mengurus pernikahanku dan adik pertamaku, sampai kemudian Papa pun harus kembali berobat ke negara tetangga. Tidak dapat kubayangkan bagaimana perasaan adikku yang kecil yang setiap hari harus berdekatan dengan Papa dan menjaga Papa disana. 

Tapi, aku tidak bisa menangis, tidak bisa. Aku tau, obat yang paling mujarab bagi penderita penyakit seperti Papa adalah pikiran yang positif, lingkungan yang positif. Karena itu, dengan menekan semua perasaanku, perasaan sedih, marah, stress karena tidak bisa bekerja dengan maksimal selama menemani Mama di rumah, dan semua kekhawatiranku bagaimana nanti keadaan Papa dan Mama saat aku kembali ke Jakarta nanti, aku tetap tertawa. Yah, aku harus kuat, aku harus tetap ceria, untuk menyemangati Papa dan Mama. Tiap malam tidak putus doa Novena kupanjatkan kepada Tuhan, aku percaya, Tuhan akan mengabulkan doa-doaku, memberikan kesembuhan total kepada Papa, memberikan aku kesempatan untuk bisa membahagiakan Papa dan Mama. 

Meskipun aku belum bisa membantu banyak dalam hal biaya pengobatan Papa, Tuhan telah begitu baik mengaruniakan rejeki yang berlimpah bagi kedua adik-adikku sehingga mereka bisa memberikan andil yang lebih besar dalam hal ini. Semoga Tuhan tetap memberikan rejeki kepada kami bertiga untuk dapat terus berjuang mengupayakan pengobatan yang terbaik untuk kesembuhan Papa. Dan dalam situasi seperti ini aku pun sadar, bahwa untuk seorang Papa yang sedang berjuang melawan penyakitnya, Papa membutuhkan banyak cinta, cinta dari kami keluarganya, cinta dari orang-orang di sekitarnya.

Tuhan, kuatkanlah kami, agar kami semua dapat terus berjuang bersama-sama Papa sampai pada hari  kesembuhan Papa nanti, amin. 

"not only money counts, love matters" VC