Hmmm, aku bukan penggemar perdebatan, bukan juga penikmat pro dan kontra. Tapi, beberapa pemikiran muncul di benakku :
1. Memang benar, para pengedar narkoba itu jahat. Demi mendapatkan keuntungan pribadi, mereka rela mengorbankan orang lain, bahkan sampai dengan nyawa orang lain tersebut pun harus direnggut karena penggunaan obat-obatan yang mereka produksi atau jual-belikan. Memang benar, Indonesia sebagai negara hukum yang berdaulat, mempunyai aturan mainnya sendiri, barang siapa tertangkap mengedarkan narkoba, hukuman mati adalah mutlak. Hampir setiap pengumuman dalam penerbangan menginformasikan hal tersebut, belum lagi plang-plang besar yang terpasang di bandara dan beberapa tempat umum lainnya. Aku bukanlah seorang yang mendukung hukuman mati, karena aku percaya setiap orang bisa berubah dan bisa diampuni. Jika ada jalan selain hukuman mati (hukuman seumur hidup dengan pengasingan di pulau terpencil misalnya), aku rasa itu lebih baik. Sayangnya memang di Indonesia, meski terpidana sudah dipenjara, mereka tetap bisa melancarkan aksinya, tentunya karena dukungan petugas-petugas di sekitarnya yang bermental korupsi, dimana menurutku orang-orang ini juga tidak lebih baik daripada pengedar narkoba tersebut. Karenanya aku juga percaya pada sebuah norma dimana setiap orang wajib menghargai peraturan dan hukum yang berlaku dimana mereka menginjakkan kakinya. Jadi jika pemerintah Indonesia memutuskan hukuman mati adalah jawaban, para pelaku seharusnya sudah mengerti hal itu, begitu pula dengan pihak-pihak lain yang berada di belakangnya, langsung atau tidak langsung.
Tapi, bukan berarti pula mereka boleh dipojokkan oleh seantero pengguna sosmed. Ada yang bilang syukurin, ada yang menepuki, ada yang tertawa, ada yang memaki-maki, ada pula yang tiba-tiba menjelma menjadi "Tuhan" dengan berkata yakin bahwa terpidana mati tersebut akan masuk neraka, selamat bertemu dengan-Nya untuk menjelaskan, atau bahkan bahwa Tuhan tidak akan mengampuninya, buat apa bernyanyi-nyanyi memuji Tuhan sebelum mati. Sebuah pertanyaan, siapakah kita ini sehingga bisa menghakimi seperti itu? Pantaskah kita bertindak seperti itu? Apakah seluruh hidup kita telah melakukan yang terbaik sehingga kita yakin bahwa kita tidak lebih bersalah dari terpidana-terpidana mati tersebut? Apakah kita merasa kita telah menjadi sama seperti Dia sehingga kita bisa tau apa yang Dia pikirkan? Kita tidak pernah tau bagaimana hubungan pribadi mereka sekarang antara orang-orang tersebut dengan-Nya, meskipun status mereka adalah pengedar narkoba. Namanya juga hubungan pribadi, maka hanya antara Tuhan dan orang tersebut yang tau. Memangnya kita tau bahwa Tuhan akan menempatkan mereka di neraka? Memangnya kita tau apakah Tuhan akan mengampuninya atau tidak? Jadi sekali lagi, pantaskah kita menghakimi?
2. Dalam semua ilmu ekonomi, aku tau, ada permintaan maka ada supply. Begitu pula dengan narkoba, menurutku. Ada pengedar, karena ada pemakai. Sekali lagi, aku tau narkoba itu jahat. Dan mungkin orang-orang akan mengataiku karena aku tidak pernah merasakannya, karena tidak ada orang dalam keluargaku yang pernah merasakan akibat buruk dari narkoba. Tapi, menjadi pemakai adalah pilihan. Pemakai juga jauh tidak lebih baik daripada pengedarnya. Orang menggunakan narkoba dengan sadar. Mereka bisa memilih untuk menjauhinya, memilih untuk tidak memakainya. Aku juga bukan orang suci. Main-main di dunia malam, ke club, juga menjadi hal-hal yang menyenangkan bagiku. Kalau kemudian di setiap club yang aku datangi aku memang hanya menikmati dance atau menari-nari berjam-jam, sambil sesekali minum bir, dan bukannya menenggak obat-obatan aneh seperti kebanyakan orang lainnya yang ada di club, maka itu juga adalah pilihan. Kalau aku bisa memilih, maka semestinya demikian pula dengan orang lain. "Dunia rasanya runtuh, aku adalah orang yang paling menderita di dunia ini; aku sakit hati, rasanya mau mati saja; orangtuaku tidak mempedulikanku, mereka terlalu sibuk; oh aku butuh pelarian!!" dan jadilah mereka berlari kepada narkoba. Hello, kamu doank? Kamu doank orang yang paling menderita di dunia ini? Apa kabar Nick Vujicic? Apa kabar Jonathan Pitre, Lizzie Velasquez? Atau Habibi? Atau Stephani Handojo? (kalau kamu tidak tau siapa orang-orang itu, silahkan google). "Aku dijebak temanku, sekarang aku tidak bisa tanpa narkoba". Yah, dijebak oleh orang lain untuk masuk dalam lingkaran narkoba memang suatu peristiwa yang menyedihkan. Tapi bukan berarti tidak bisa keluar dari lingkaran tersebut, kan? Memang butuh perjuangan dan menyakitkan, hanya masalah mau atau tidak kan? Jadi, apakah para pemakai ini bisa disebut sebagai "hanya korban" saja? Ok, mari kita memisahkan anak-anak kecil yang masih di bawah umur dengan sebutan "korban". Di luar itu, bukankah perlu memilah-milah kembali dalam penggunaan kata-kata tersebut? Sekali lagi, aku bukan pengguna narkoba, keluargaku tidak ada yang menjadi "korban" narkoba, teman-temanku tidak ada yang menjadi pengguna narkoba, hanya karena kami memilih untuk tidak menggunakannya, memilih untuk tidak dekat-dekat dengan lingkungannya, memilih lingkungan tempat kami bergaul sehari-hari, jadi mungkin aku memang tidak tau bagaimana perasaan orang-orang ataupun keluarga yang terlibat di dalamnya.
Kembali ke bahasan awal, putusan sudah dijatuhkan, eksekusi pun sudah dijalankan, jadi hormati saja, hormati keputusan pemerintah, hormati keluarga terpidana dan terpidana mati tersebut. Aku tau banyak yang cinta Indonesia sehingga tiba-tiba menjadi sarkastis, membela negara dengan kata-katanya yang menggebu-gebu, saling serang dan menjatuhkan dalam sosial media. Hanya, kalau boleh berpendapat, cinta negara alangkah baiknya jika diwujudkan dalam perbuatan, urusan hukum, urusan politik, percayakan kepada pemerintah yang mestinya sudah ahli dalam hal ini. Yang pelajar yah belajar dengan baik, yang pekerja yah berkarya dengan baik, agar suatu hari bisa memberikan suatu sumbangsih yang nyata bagi kemajuan bangsa, bukan hanya dalam kata-kata. Atau, mungkin sudah ada yang kamu berikan bagi Indonesia yang kamu sayangi ini? Belum? Yuk kita perbaiki diri sendiri dulu, tidak ada salahnya melakukan tindakan nyata yang terbaik bagi orang-orang di sekitar kita, bagi keluarga misalnya, kasih Papa dan Mama jalan-jalan keliling Indonesia dan luar negeri, kasih anak untuk bisa sekolah di sekolah yang bagus dan mendapatkan pendidikan terbaik, kasih pasangan kita makan malam yang istimewa di restoran impiannya, sudahkah? Atau mungkin hanya tindakan untuk memajukan diri sendiri sehingga kita bisa punya rumah sendiri, mobil, penghasilan yang bagus, travelling, sudahkah?
"life is about choices, you only live once, but if you choose right, once is enough" VC