Sedang asik-asiknya mengunyah makanan, tiba-tiba aku merasakan ada yang janggal dengan kunyahanku, terasa ada yang keras, hmmm. Feeling-ku mengatakan seperti mengunyah potongan gigi. Begitu kuambil ternyata benar, beberapa pecahan gigi terlihat disana, yaikss. Dengan bantuan lidah, terasalah bahwa gigi geraham di sisi kanan atas berlubang, hadehh, ini disaster.
Aku : Ma, itu dokter gigi yang dulu aku pernah kesana, namanya siapa yah?
Mama : Yang mana? Krisna?
Aku : Bukan, yang satu lagi, itu kan teman Papa kalau Krisna.
Papa : Yosep?
Aku : Nah, iyah benar Pa. Masih praktek ga yah? Mau kesana, gigiku berlubang nih, mau minta ditambal aja lah.
Papa : Ke Om Krisna aja lah.
Aku : Ah, ga mau ah, dia suka ga mao terima bayaran, ga enak jadinya (Om Krisna tidak pernah mau terima bayaran jika kami memeriksakan gigi atau berobat disana)
Mama : Ngga lah, udah mau kok sekarang, tar Mama telpon dulu buat janji.
Aku : Y udah dhe kalau gitu.
Saat sedang bersantai siang hari sambil menemani Papa di rumah, handphone-ku berbunyi, ternyata dari Mama.
Aku : Hallo, Ma.
Mama : Itu Om Krisna katanya bisa hari ini, langsung datang aja nanti jam 6 sore yah.
Aku : Oh gitu, oke dhe Ma.
Jam 5.30 aku pun berangkat menuju tempat praktek Om Krisna. Bahhh, hujan sejak tadi siang membuat jalanan sedikit macet. Jam 6 pas aku tiba di tempat prakteknya.
Aku : Hai, Om, pa kabar?
Om Krisna : Hai, iya, gimana? Sini langsung duduk aja.
Aku : Iya nih, Om, gigiku pecah tadi, jadi berlubang dhe, kayaknya gede dhe lubangnya.
Om Krisna : Ok, biar Om periksa dulu yah.
Sudah lama tidak pernah duduk di kursi ini, rasanya kok gemetaran yah. Meski aku cukup pemberani dan tahan banting, tapi berasa jiper juga saat mau diperiksa giginya. Tak lama kemudian Om Krisna pun sibuk memeriksa gigiku, sedangkan aku, aku lebih memilih untuk memejamkan mataku selama dia mengerjakan tugasnya, jujur aku takut melihat alat-alat yang dia pergunakan masuk ke dalam mulutku.
Om Krisna : Wah, wah, ini mah harus dicabut (gumamnya)
Aku : Ermm...ermmm...(karena tidak bisa bicara banyak dalam posisi mulut terbuka seperti ini)
Om Krisna : Om bersihin karang giginya dulu yah.
Aku : Boleh, Om.
Dan selanjutnya aku menyesali jawabanku ini.
Hal yang kudengar berikutnya adalah suara mesin bercampur dengan alatnya yang kretak kretak di sekitar area gigi dan gusiku, sakitnya minta ampun. Terutama saat di area gigi sebelah kiri yang tidak pernah kugunakan, konon katanya semakin tidak digunakan maka karang gigi semakin banyak dan semakin kotor. Ini adalah pengalaman 30 menit terlama dalam hidupku. Ingin rasanya cepat-cepat selesai dan kabur dari kursi itu. Setiap menahan sakit, aku berusaha meregangkan kakiku sejauh-jauhnya, entah kenapa aku berharap itu akan mengurangi rasa sakitnya.
Om Krisna : Nah selesai, begini kan lebih enak, sudah bersih gigi kamu. Itu yang berlubang giginya sudah dikasih obat yah, nanti besok kamu balik lagi untuk dicabut.
Aku : Hah? Jadi memang perlu dicabut yah? Sakit ga yah?
Om Krisna : Ga lah, ga sakit kok, tergantung itu giginya seperti apa menancap ke dalamnya, mudah-mudahan tidak susah cabutnya.
Aku : (dengan muka melongo) Om, ga bisa ditambal aja kah? *muka memelas dan berharap*
Om Krisna : Ga bisa, percuma, nanti malah akan sakit ke depannya, udah cabut aja, ga keliatan juga.
(Sambil berbicara ke asistennya) Ini langsung dibuatkan janji aja besok jam 6 sore lagi yah untuk Ibu ini.
Aku : Oke dhe, Om (hanya bisa pasrah)
Sesampainya di rumah, aku bercerita pada Mama bahwa gigiku akan dicabut besok. Aku ketakutan. Rasanya kembali seperti anak kecil. Aku memikirkan terus bagaimana yah rasanya, sudah lama sekali aku tidak cabut gigi, sakit ga yah, mana giginya besar, begitu terus berputar-putar. Mama dan Papa mengharuskan aku untuk tetap datang esok hari dan agar mau dicabut giginya, benar-benar pasrah.
Keesokan harinya, rasa takut semakin menjadi-jadi, apalagi saat jam dinding sudah menunjukkan pukul 4 sore. Aku sempat tertidur sejenak, agak-agak berharap kalau tertidur sampai dengan jam 7 malam. Tapi Mama lebih pintar, jam 4.30 aku sudah dibangunkan, mau ga mau harus bersiap-siap berangkat. Sesuai pesan Om Krisna, aku makan dulu sebelum jalan, dan kali ini diantar adikku karena disuruh oleh Papa. Dengan membuat tanda salib dan mengucap doa, aku pun berangkat.
Sesampainya di tempat praktek, Om Krisna sudah siap dengan 'perlengkapan perangnya'.
Om Krisna : Ayo, langsung aja yah.
Aku : Baik, Om.
Begitu terduduk di kursi pasien, aku langsung memejamkan mataku, tidak berani melihat alat-alat apa saja yang digunakan. Jantungku berdegup kencang, seperti akan digiring ke area tembak. Sambil berdoa di dalam hati, aku berusaha sekuat tenaga membayangkan hal-hal yang menyenangkan. 7 tattoo sudah aku miliki, tidak sedikitpun aku merasa sakit atau ketakutan saat membuatnya, tapi dihadapkan dengan seorang dokter gigi, aku mati kutu.
Rasanya sudah 1 jam aku duduk di kursi itu, padahal tidak sampai 15 menit.
Om Krisna : Oke, sudah boleh bangun, sudah selesai.
Aku : Hah? Sudah selesai, Om? Giginya sudah dicabut?
Om Krisna : Sudah kok.
Aku : Kok ga berasa yah? Mana giginya? *serasa tidak percaya*
Woahhhh, itu adalah gigi tergede yang pernah aku lihat, seram rasanya membayangkan gigi sebesar itu dicabut dari mulutku. Tapi aku bersyukur, sudah selesai yeayyy. Om Krisna memberikanku resep obat untuk diminum sebagai penahan sakit, aku pun bisa bernafas lega kembali.
31 tahun aku hidup, sepertinya ini adalah salah satu pengalaman yang paling menyeramkan dalam hidupku *usap keringat*, padahal yang dibutuhkan hanyalah sedikit keberanian untuk memulainya.
"it's every little thing in your life that have grown you up, be brave" VC