Tuesday, March 31, 2015

Hari Dua

Sedang asik-asiknya mengunyah makanan, tiba-tiba aku merasakan ada yang janggal dengan kunyahanku, terasa ada yang keras, hmmm. Feeling-ku mengatakan seperti mengunyah potongan gigi. Begitu kuambil ternyata benar, beberapa pecahan gigi terlihat disana, yaikss. Dengan bantuan lidah, terasalah bahwa gigi geraham di sisi kanan atas berlubang, hadehh, ini disaster.

Aku : Ma, itu dokter gigi yang dulu aku pernah kesana, namanya siapa yah?
Mama : Yang mana? Krisna?
Aku : Bukan, yang satu lagi, itu kan teman Papa kalau Krisna.
Papa : Yosep?
Aku : Nah, iyah benar Pa. Masih praktek ga yah? Mau kesana, gigiku berlubang nih, mau minta ditambal aja lah.
Papa : Ke Om Krisna aja lah.
Aku : Ah, ga mau ah, dia suka ga mao terima bayaran, ga enak jadinya (Om Krisna tidak pernah mau terima bayaran jika kami memeriksakan gigi atau berobat disana)
Mama : Ngga lah, udah mau kok sekarang, tar Mama telpon dulu buat janji.
Aku : Y udah dhe kalau gitu.

Saat sedang bersantai siang hari sambil menemani Papa di rumah, handphone-ku berbunyi, ternyata dari Mama.

Aku : Hallo, Ma.
Mama : Itu Om Krisna katanya bisa hari ini, langsung datang aja nanti jam 6 sore yah.
Aku : Oh gitu, oke dhe Ma.

Jam 5.30 aku pun berangkat menuju tempat praktek Om Krisna. Bahhh, hujan sejak tadi siang membuat jalanan sedikit macet. Jam 6 pas aku tiba di tempat prakteknya.

Aku : Hai, Om, pa kabar?
Om Krisna : Hai, iya, gimana? Sini langsung duduk aja.
Aku : Iya nih, Om, gigiku pecah tadi, jadi berlubang dhe, kayaknya gede dhe lubangnya.
Om Krisna : Ok, biar Om periksa dulu yah.

Sudah lama tidak pernah duduk di kursi ini, rasanya kok gemetaran yah. Meski aku cukup pemberani dan tahan banting, tapi berasa jiper juga saat mau diperiksa giginya. Tak lama kemudian Om Krisna pun sibuk memeriksa gigiku, sedangkan aku, aku lebih memilih untuk memejamkan mataku selama dia mengerjakan tugasnya, jujur aku takut melihat alat-alat yang dia pergunakan masuk ke dalam mulutku.

Om Krisna : Wah, wah, ini mah harus dicabut (gumamnya)
Aku : Ermm...ermmm...(karena tidak bisa bicara banyak dalam posisi mulut terbuka seperti ini)
Om Krisna : Om bersihin karang giginya dulu yah.
Aku : Boleh, Om.

Dan selanjutnya aku menyesali jawabanku ini.
Hal yang kudengar berikutnya adalah suara mesin bercampur dengan alatnya yang kretak kretak di sekitar area gigi dan gusiku, sakitnya minta ampun. Terutama saat di area gigi sebelah kiri yang tidak pernah kugunakan, konon katanya semakin tidak digunakan maka karang gigi semakin banyak dan semakin kotor. Ini adalah pengalaman 30 menit terlama dalam hidupku. Ingin rasanya cepat-cepat selesai dan kabur dari kursi itu. Setiap menahan sakit, aku berusaha meregangkan kakiku sejauh-jauhnya, entah kenapa aku berharap itu akan mengurangi rasa sakitnya.

Om Krisna : Nah selesai, begini kan lebih enak, sudah bersih gigi kamu. Itu yang berlubang giginya sudah dikasih obat yah, nanti besok kamu balik lagi untuk dicabut.
Aku : Hah? Jadi memang perlu dicabut yah? Sakit ga yah?
Om Krisna : Ga lah, ga sakit kok, tergantung itu giginya seperti apa menancap ke dalamnya, mudah-mudahan tidak susah cabutnya.
Aku : (dengan muka melongo) Om, ga bisa ditambal aja kah? *muka memelas dan berharap*
Om Krisna : Ga bisa, percuma, nanti malah akan sakit ke depannya, udah cabut aja, ga keliatan juga. 
(Sambil berbicara ke asistennya) Ini langsung dibuatkan janji aja besok jam 6 sore lagi yah untuk Ibu ini.
Aku : Oke dhe, Om (hanya bisa pasrah)

Sesampainya di rumah, aku bercerita pada Mama bahwa gigiku akan dicabut besok. Aku ketakutan. Rasanya kembali seperti anak kecil. Aku memikirkan terus bagaimana yah rasanya, sudah lama sekali aku tidak cabut gigi, sakit ga yah, mana giginya besar, begitu terus berputar-putar. Mama dan Papa mengharuskan aku untuk tetap datang esok hari dan agar mau dicabut giginya, benar-benar pasrah.

Keesokan harinya, rasa takut semakin menjadi-jadi, apalagi saat jam dinding sudah menunjukkan pukul 4 sore. Aku sempat tertidur sejenak, agak-agak berharap kalau tertidur sampai dengan jam 7 malam. Tapi Mama lebih pintar, jam 4.30 aku sudah dibangunkan, mau ga mau harus bersiap-siap berangkat. Sesuai pesan Om Krisna, aku makan dulu sebelum jalan, dan kali ini diantar adikku karena disuruh oleh Papa. Dengan membuat tanda salib dan mengucap doa, aku pun berangkat.

Sesampainya di tempat praktek, Om Krisna sudah siap dengan 'perlengkapan perangnya'. 
Om Krisna : Ayo, langsung aja yah.
Aku : Baik, Om.

Begitu terduduk di kursi pasien, aku langsung memejamkan mataku, tidak berani melihat alat-alat apa saja yang digunakan. Jantungku berdegup kencang, seperti akan digiring ke area tembak. Sambil berdoa di dalam hati, aku berusaha sekuat tenaga membayangkan hal-hal yang menyenangkan. 7 tattoo sudah aku miliki, tidak sedikitpun aku merasa sakit atau ketakutan saat membuatnya, tapi dihadapkan dengan seorang dokter gigi, aku mati kutu.

Rasanya sudah 1 jam aku duduk di kursi itu, padahal tidak sampai 15 menit.
Om Krisna : Oke, sudah boleh bangun, sudah selesai.
Aku : Hah? Sudah selesai, Om? Giginya sudah dicabut?
Om Krisna : Sudah kok.
Aku : Kok ga berasa yah? Mana giginya? *serasa tidak percaya*

Woahhhh, itu adalah gigi tergede yang pernah aku lihat, seram rasanya membayangkan gigi sebesar itu dicabut dari mulutku. Tapi aku bersyukur, sudah selesai yeayyy. Om Krisna memberikanku resep obat untuk diminum sebagai penahan sakit, aku pun bisa bernafas lega kembali.

31 tahun aku hidup, sepertinya ini adalah salah satu pengalaman yang paling menyeramkan dalam hidupku *usap keringat*, padahal yang dibutuhkan hanyalah sedikit keberanian untuk memulainya.

"it's every little thing in your life that have grown you up, be brave" VC


Monday, March 30, 2015

Hari Satu

Yayy, Papa pulang hari ini. Hari yang kami nanti-nantikan pun tiba. Setelah 1,5 bulan Papa menjalani pengobatan Chemoterapy yang ke-2 dan ke-3 serta Radiotherapy 30x di Singapura, akhirnya Papa bisa pulang kembali ke rumah untuk istirahat sejenak sebelum lanjut ke treatment berikutnya. 

Seperti biasa, pukul 6 pagi Mama sudah bangun, berbenah di belakang, aku pun masih guling-gulingan di atas kasur, menunggu saatnya Mama mandi. Setelah Mama mandi, menjelang pukul 7 aku bangun dan beberes juga. Pukul 8 kurang seperempat, kami sudah siap untuk berangkat ke kantor. Tak ada yang spesial pagi itu, jujur, rutinitas yang membosankan menurutku, jika dibanding kehidupanku di Jakarta yang, hmm, lebih berwarna.

Pukul 10.30 kami siap-siap pulang lagi ke rumah agar Mama bisa menyiapkan makan siang untuk Pamanku yang sejak 2 minggu yang lalu datang berlibur ke Indonesia. Tapi kali ini aku mengusulkan bagaimana kalau kami membeli makanan jadi saja di luar, meskipun sebenarnya memang aku lagi ingin makan bakmie kesukaanku, hehe. Kasian Mama juga, setiap siang harus pulang kemudian memasak, kemudian berangkat lagi ke kantor. Mama setuju, kami pun pulang dengan membawa 3 bungkus bakmie.

Sesampainya di rumah, 3 bungkus bakmie dihidangkan dan kami makan dengan lahap. Simple, tidak sampai 30 menit semuanya selesai makan, tidak seperti sebelum-belumnya dimana paling tidak Mama perlu menghabiskan waktu +- 1 jam untuk memasak, mempersiapkan makan siang kemudian makan bersama. Ditambah lagi aku tidak bisa memasak, dan memang tidak berminat belajar memasak juga, jadilah aku tidak bisa membantu Mama menyiapkan makan siang.

Selesai makan, aku pun membantu Mama membenahi tempat tidur yang nanti akan digunakan Papa, mengganti sprei dan merapikannya kembali. Kata Mama, "Ganti yang baru biar segar, kan Papa sudah mau pulang", dengan raut wajah yang sangat gembira. Dalam hati, aku sangat terharu mendengar perkataan Mama itu. Yah, sudah 1,5 bulan Papa tidak berada di rumah, aku tau Mama pasti kesepian, hanya Mama begitu tegar dan tidak pernah menunjukkannya kepadaku.

Pukul 12.30 kami pun berangkat ke bandara, tak lupa di perjalanan kami singgah untuk membeli nasi ayam pesanan Papa tadi lewat telepon. Sesampainya di bandara, ternyata Papa dan adikku belum sampai juga. Jadilah kami menunggu sekitar 15 menit. Mama sudah cemas, celingak-celinguk sana-sini menanyakan apakah pesawat yang ditumpangi Papa sudah sampai atau belum. Puji Tuhan tak lama kemudian, kami melihat rombongan penumpang mulai keluar melalui pintu kedatangan, tapi Papa dan adikku belum terlihat juga. 2 petugas bandara membawa kursi roda melewati tempat kami berdiri dan menuju ke arah pintu kedatangan penumpang. "Oh, Tuhan", dalam hatiku berkata, "apakah ini untuk membawa Papa, apakah Papa sedang selemah itu fisiknya". Syukurlah, ternyata kursi roda itu bukan untuk Papa  karena kemudian Papa dan adikku mulai berjalan keluar ke arah kami.

Senyum merekah di wajah Mama menyambut kedatangan Papa, begitupun aku. Tapi, mau menangis aku rasanya ketika akan memeluk Papa. Papa yang selama ini selalu kelihatan gagah dan bersemangat, telah menjelma menjadi seseorang yang kurus dan tampak lemas. Belum pernah sepanjang ingatanku selama 31 tahun ini bahwa Papa pernah sampai sekurus ini. Menggunakan topi untuk menutupi kepalanya yang telah botak akibat efek samping Chemotherapy serta jaket yang kegedean, aku memeluk Papa untuk mengucapkan selamat datang sambil menahan tangisku. Yah, aku tidak mungkin menangis, aku tidak boleh menangis, karena jika aku melakukan itu, bagaimana dengan perasaan Papa, bagaimana dengan Mama, bagaimana dengan adikku. Sebagai anak tertua di keluargaku, aku harus kuat, aku harus pura-pura kuat, meskipun aku tau aku tidaklah sekuat itu.

Aku adalah orang yang cengeng, sangat cengeng. Hal-hal kecil saja bisa menyentuh hatiku dan membuatku meneteskan air mata. Melihat seorang bapak tua yang gemetaran ketika mengantri panjang untuk membelikan handphone diskonan buat anaknya saat aku masih bekerja di kantoran dulu, menonton video pendek di Youtube tentang "Sepucuk Surat dari Orangtua kepada Anaknya", melihat adegan perjuangan seorang Merry Riana saat membuktikan diri kepada sponsornya Alva pada film "Mimpi Sejuta Dollar", semua itu sudah sanggup untuk membuatku menangis. Dan sekarang, setiap hari, setiap saat aku harus melihat keadaan Papa yang lemas, muntah-muntah karena efek samping obatnya, kaki-kakinya yang kurus, wajahnya yang penuh kerutan saat ia tidur, membuatku ingin menangis meraung-raung sejadi-jadinya. Belum pernah aku sedekat ini dengan Papa sejak ia divonis positif kanker. Sebelum-belumnya, aku hanya sempat mendampinginya sebentar karena kesibukanku mengurus pernikahanku dan adik pertamaku, sampai kemudian Papa pun harus kembali berobat ke negara tetangga. Tidak dapat kubayangkan bagaimana perasaan adikku yang kecil yang setiap hari harus berdekatan dengan Papa dan menjaga Papa disana. 

Tapi, aku tidak bisa menangis, tidak bisa. Aku tau, obat yang paling mujarab bagi penderita penyakit seperti Papa adalah pikiran yang positif, lingkungan yang positif. Karena itu, dengan menekan semua perasaanku, perasaan sedih, marah, stress karena tidak bisa bekerja dengan maksimal selama menemani Mama di rumah, dan semua kekhawatiranku bagaimana nanti keadaan Papa dan Mama saat aku kembali ke Jakarta nanti, aku tetap tertawa. Yah, aku harus kuat, aku harus tetap ceria, untuk menyemangati Papa dan Mama. Tiap malam tidak putus doa Novena kupanjatkan kepada Tuhan, aku percaya, Tuhan akan mengabulkan doa-doaku, memberikan kesembuhan total kepada Papa, memberikan aku kesempatan untuk bisa membahagiakan Papa dan Mama. 

Meskipun aku belum bisa membantu banyak dalam hal biaya pengobatan Papa, Tuhan telah begitu baik mengaruniakan rejeki yang berlimpah bagi kedua adik-adikku sehingga mereka bisa memberikan andil yang lebih besar dalam hal ini. Semoga Tuhan tetap memberikan rejeki kepada kami bertiga untuk dapat terus berjuang mengupayakan pengobatan yang terbaik untuk kesembuhan Papa. Dan dalam situasi seperti ini aku pun sadar, bahwa untuk seorang Papa yang sedang berjuang melawan penyakitnya, Papa membutuhkan banyak cinta, cinta dari kami keluarganya, cinta dari orang-orang di sekitarnya.

Tuhan, kuatkanlah kami, agar kami semua dapat terus berjuang bersama-sama Papa sampai pada hari  kesembuhan Papa nanti, amin. 

"not only money counts, love matters" VC