Wednesday, April 8, 2015

Hari Empat

Kondisi Papa pada hari ke-8 setelah chemo drop, Papa semakin tidak nafsu makan, dadanya mulai sakit lagi, terutama pada saat menelan makanan. Aku tau, seperti yang sudah dijelaskan dokter yang menangani Papa di Singapura, seperti yang sudah dijelaskan oleh adik iparku yang juga Oncologist, sakit tersebut terjadi sebagai efek samping dari 30x Radiotherapy yang sudah dijalani oleh Papa. Tapi keadaan ini tidak bagus. Belum lagi suhu badan Papa yang sempat mencapai 38,5 derajat celcius. Yah, sebagai konsekuensi pasca chemo, aku dan Mama harus rajin-rajin mengukur suhu badan Papa, karena demam bisa menjadi efek samping Chemo, selain mual, muntah dan tidak nafsu makan.

Sudah berhari-hari Papa hanya minum susu nutrisinya saja. Ini tidak bagus. 
"Ce, minta Papa cek darah dhe", begitu chatting-an dari adik iparku. "Supaya bisa cek apakah ada infeksi atau bagaimana", sambungnya.

Segera aku mendaftarkan Papa untuk mendapatkan tes darah, untungnya salah satu laboratorium di kotaku melayani pengambilan darah ke rumah, karena jelas Papa tidak kuat jika harus diajak kesana. Berhubung esok hari tanggal merah, mereka menyanggupi untuk melakukannya lusa.

Hari yang ditentukan tiba, Papa pun menjalani pengambilan darah. Jam 2 siang adalah waktu yang ditentukan untuk mengambil hasil, jam 3 lab tersebut akan tutup dikarenakan weekend. Jam 3 kurang 15 aku berhasil tiba disana, agak telat memang karena dapat "tugas negara" mengantar Paman ku. Tak sabar aku pun segera membuka hasilnya. Begitu terkejutnya aku melihat hasil tes darah Papa. Yang lain aku tidak begitu mengerti, tapi untuk trombosit, aku cukup familiar karena sering mendengar tentang penyakit demam berdarah.
16.000 dari nilai rujukan normal 150.000, kok rendah sekali, begitu batinku. Segera kukirimkan hasilnya kepada adik ku dan adik iparku. Mereka pun tidak kalah terkejutnya. Suatu tindakan harus segera diambil.

"Ce, bawa Papa ke Singapura segera, Papa musti di-opname. Aku tidak yakin RS di Pontianak mempunyai kapabilitas untuk menangani pasien after chemo", pinta adik iparku segera. "Aku tidak yakin Papa bisa loh, lagian kalau sekarang sudah tidak ada jadwal pesawat lagi", jawabku dengan lemas. Memang, salah satu kerugian tinggal di kota kecil adalah tidak adanya fasilitas penerbangan direct keluar negeri. "Ok, kalau gitu paling tidak ke Jakarta dulu, setidaknya mereka lebih baik daripada di Pontianak", sambungnya lagi.

Dan benar saja, Papa sempat menolak awalnya ketika aku pulang dan membujuknya untuk berangkat segera. Cape, lemes, itulah jawaban Papa. Telpon dari adikku pun tidak berhenti-henti untuk kusambungkan kepada Papa dan Mama, bersama-sama kami membujuk Papa. Akhirnya, setelah "drama kecil" yang terjadi dimana aku sempat menangis karena ke-sensi-anku sore itu mengingat betapa khawatirnya aku terhadap kondisi Papa, Papa pun setuju untuk berangkat keesokan paginya bersama Mama dan aku, sekeluarga, ke Jakarta. Setidaknya aku bisa menarik nafas lega sedikit.

Malam hingga keesokan pagi pada saat kami sudah berada di dalam pesawat, tidak henti-hentinya aku berdoa agar Papa kuat sampai ke Jakarta dan mendapatkan RS yang bisa memberikan perawatan sementara yang terbaik buat Papa sebelum nantinya terbang ke Singapura lagi. Syukurlah, Tuhan sungguh sangat baik. Segalanya berlangsung dengan sangat lancar. Meski awalnya kami harus berpindah RS karena RS pertama yang kami tuju lebih merekomendasikan agar Papa dibawa ke RS yang sekarang (dan memang kedua RS tersebut masih berada dalam 1 group yang sama), tapi sungguh semuanya berjalan baik, puji Tuhan. Dengan tujuan untuk perbaikan kondisi, RS ini pun sangat terbuka dan profesional dalam menangani kondisi Papa.

Hari ini, Papa sudah menjalani perawatan hari keempat. Kondisi Papa berangsur membaik. Sudah mulai nafsu makan, request jenis makanan (pengen makan bakmie kepiting khas kota kami, tapi mana mungkin bisa beli disini T_T), sakit di dadanya sudah semakin berkurang, air mukanya semakin cerah dan sudah mulai bisa "ke belakang" setelah 6 hari tertahan (tentu saja, karena tidak ada makanan yang Papa makan selama beberapa hari sebelumnya). Kata dokter, setelah hasil tes darah esok hari lebih baik, maka Papa sudah diperbolehkan pulang. Eitss, belum bisa pulang ke rumah, karena 2 hari kemudian Papa pun sudah harus terbang kembali ke Singapura untuk menjalani chemotherapy siklus ke-empatnya. Sebuah perjalanan dan proses yang panjang dan melelahkan untuk kesembuhan Papa, tapi Papa dan kami akan kuat menjalaninya.

Cepat sembuh, Papa, kami sangat menantikan Papa sembuh, we love you, Papa :)

"no matter how old you are today, as long as I'm living in this world, you will always be my little girl", my dad once said to me - VC 

No comments:

Post a Comment