Hari itu adalah hari di minggu ketiga dimana aku menjadi guru les private dadakan. Kalau ku pikir-pikir lagi sekarang, institusi les private ini sepertinya agak 'abal-abal' alias kurang profesional. Seingatku, aku tidak pernah melakukan interview atau bahkan bertemu dengan pengelolanya sekalipun, tapi mereka menerima dan mempekerjakanku hanya berdasarkan konfirmasi by telpon. Entah lebih kepada bodoh atau kebutuhan, aku oke-oke saja dan menerima tawaran mereka tersebut. Hmmm, kalau seandainya saja aku tidak dibayar juga mungkin aku tidak bisa apa-apa yah, dasar anak daerah yang butuh duit, haha.
Yah, sejak semester 3, aku sudah melakukan berbagai macam pekerjaan sampingan. Sebagai anak daerah yang merantau ke Jakarta, aku tidak pernah menyangka bahwa hidup di Jakarta akan semahal ini. Uang bulanan yang dikirim Papa untuk membayar kos dan makan sehari-hari tentunya tidak pernah cukup. Diam-diam, tanpa sepengetahuan Papa dan Mama, aku mulai kerja sampingan. Kalau ketahuan Papa dan Mama, sudah pasti mereka akan marah dan menyuruhku untuk konsentrasi belajar, mengirimkan uang lebih banyak, tapi aku tidak tega. Tidak pernah sekalipun keluar kalimat dari mulutku untuk minta uang tambahan. Berapapun uang yang Papa kirimkan untukku, aku cukup-cukupkan saja setiap bulannya. "Va, uangnya cukup bulan ini? Masih ada uang?", begitu selalu tanya Papa setiap menelponku. "Cukup kok, Pa, masih ada", dan begitu pula jawabku setiap kali, padahal saat itu mungkin aku sudah harus mencongkel-congkel celenganku di kamar.
Tidak, aku tidak akan pernah mau minta uang tambahan dari Papa. Aku tau, berapa banyak biaya yang harus Papa keluarkan untuk memenuhi kebutuhan kami semua setiap bulannya. Adikku yang pertama saja baru masuk kuliah, pasti sudah habis biaya yang cukup besar. Belum ditambah dengan adik kecilku yang masih sekolah. Jadi solusinya, aku harus mencari uang tambahan sendiri.
Melihat iklan yang biasa sering ditempel di kampusku, aku pun mendaftarkan diri untuk menjadi guru les anak-anak SD. Meskipun tidak ada bekal mengajar sama sekali, aku nekat saja. Entah bagaimana caranya aku pun diterima, dengan upah bayaran Rp 20.000,- per sekali mengajar yang berdurasi +- 2 jam. Perjalanan menuju ke rumah anak tersebut sendiri mengharuskanku 2x ganti angkot serta berjalan kaki. Saat pulang lebih mending, hanya 1x naek angkot ditambah perjalanan yang jauh lebih panjang. Total biaya perjalanan yang dihabiskan saat itu kurang lebih 5ribu rupiah, jadi yang aku dapatkan hanyalah Rp 15.000,- saja. Meski demikian, aku jalani dengan senang.
Tapi sepertinya, mengajar les bukanlah bidangku. Hari itu seperti biasa aku sudah berangkat lebih cepat menuju ke rumah anak didik-ku. Cuaca agak kurang bersahabat, mendung. Aku berdoa agar jangan sampai hujan, karena aku tidak membawa payung, belum lagi jalan masuk menuju rumahnya masih lumayan jauh dari pemberhentian angkot terakhir. Sia-sia, apa yang aku takutkan justru terjadi. Tepat saat aku sudah tiba di pemberhentian, hujan mulai turun. Mau ga mau, aku tetap turun. Hujan pun semakin deras. Aku berusaha berjalan dengan menumpang-numpang teras depan rumah-rumah yang kulewati di sepanjang jalan, tetap saja hal itu tidak membantu karena hujan benar-benar turun dengan sadisnya. Sesekali aku berhenti sebentar untuk berteduh karena bajuku mulai basah, sembari cemas melihat jam mungil di tanganku yang menunjukkan bahwa aku sudah telat.
Tidak seberapa lama, aku nekat berjalan lagi, tapi hujan memang tidak reda-reda. Bajuku kini sudah benar-benar basah, dari atas sampai ke bawah. Rambutku acak-acakan, menggigil kedinginan, namun hujan tetap saja mengguyur dengan sesuka hati. Tidak mungkin aku datang ke rumah orang dengan tampilan basah kuyup seperti ini, mana jam sudah menunjukkan bahwa keterlambatanku sudah tidak dapat ditolerir lagi. Pasrah, aku mengangkat handphone ku untuk menelpon institusi yang mempekerjakanku dan minta izin bahwa aku tidak dapat datang mengajar. Aku sudah bisa membayangkan bagaimana nasib karir sebagai guru private yang baru kujalani ini.
Merasa sudah tidak ada yang perlu aku pertahankan lagi, aku pun berjalan gontai menuju ke arah berlawanan untuk menuju halte metromini yang biasa membawaku pulang. Lagi-lagi hujan pun tetap tidak bersahabat, semakin deras memuntahkan airnya ke bumi. Pasrah, dengan seluruh tubuh yang menggigil dan basah tentunya, aku terus memaksakan diri berjalan. Seakan belum selesai tragediku hari ini, ternyata jalan kulalui mulai banjir. Aku teringat bahwa memang daerah ini terkenal dengan banjirnya pada saat hari hujan, ternyata benar. Jadilah aku menerobos banjir yang mulai setinggi dengkul kakiku. Perjalanan yang mestinya biasa kutempuh sekitar 15 menit jalan kaki, serasa menjadi 1 jam di tengah hujan dan banjir ini.
Dengan susah payah akhirnya aku tiba di halte dan naik ke metro mini, aku hanya ingin segera pulang, pikirku saat itu. Namun jika kuingat moment itu kembali, aku ternyata hebat juga, tidak sampai cengeng dan menangis, entah bagaimana kalau orang lain yang menghadapi situasi tersebut. Rasa sedih dan kecewa memang besar sekali kurasa saat itu. "Ternyata, cari uang susah sekali yah, mau dapat uang 20ribu aja begitu banget pengorbanannya", begitu pikirku sendiri kala duduk di dalam metro mini itu. Tapi, aku jadi sungguh-sungguh menghargai perjuangan Papa selama ini yang bekerja keras mencari uang demi kami semua.
Metro mini itu tidak hanya membawaku pulang menuju kos, tapi membawaku kepada kesadaran baru bahwa kini aku tau cari uang tidak gampang, jadi aku harus lebih menghargai dan menggunakan uang dengan bijaksana. Aku pun harus berjuang, agar Papa pun tidak harus bekerja seumur hidupnya demi kami. Aku harus segera mandiri secara finansial sehingga tidak perlu merepotkan Papa lagi. Meskipun memang akhirnya karirku sebagai guru les berakhir, karena ternyata Mama si anak tersebut pun tidak mau memakai jasaku lagi gara-gara aku tidak muncul hari itu, kejadian ini memberikan pengalaman yang sangat berarti buat perjalanan hidupku selanjutnya.
"it took a little bit pain to appreciate what you have, but it will be worth it, just fight for whatever you want, as it's possible" VC
No comments:
Post a Comment